1. Menurut cognitive
theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan
dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut
dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran
kimia?
Jawab :
Teori
kognitif merupakan salah satu teori yang paling mendasari penggunaanya dalam
proses pembelajaran dari pada teori Behavioristik dan Konstruktifistik. Teori
kognitif lebih mementingkan proses belajarnya atau proses menuju pemahaman
mengenai sesuatu hal. Berbeda jauh dengan teori Behavioristik yang lebih
mementingkan hasilnya. Para pakar teori kognitif seperti Piaget, Bruner, dan
Ausubel memberikan makna tersendiri tentang teori kognitif. Menurut Piaget
kegiatan belajar terjadi seturut dengan pola tahap-tahap perkembangan
tertentu dan umur seseorang, serta melalu proses asimilasi, akomodasi dan
equilibrasi. tiga asumsi yang mendasari teori kogitif tentang multimedia
learning, yakni: dual-channel (saluran ganda), limited-capacity (kapasitas
terbatas), dan active-processing (pemrosesan-aktif).
Ada tiga asumsi dasar cognitive theory of multimedia learning (CTML) yang dikemukakan oleh Mayer (2001), yakni :
Ada tiga asumsi dasar cognitive theory of multimedia learning (CTML) yang dikemukakan oleh Mayer (2001), yakni :
1) Asumsi
saluran-ganda (dual-channel assumption)
Manusia menggunakan kanal pemrosesan
informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan
informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam
tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik
melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua, informasi-informasi
ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working
memory), di mana isyarat tutur (speech) yang bersifat auditif maupun
gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga,
informasi dari kedua kanal tersebut
disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam
memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai
bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh
masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki
oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2) Asumsi
Kapasitas-terbatas (limited-capacity)
Adanya keterbatasan kemampuan
manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi
presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar,
video, diagram, dsb) dan beberapa informasi tutur (auditif). Asumsi
inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive
load theory). Meskipun beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa
penelitian menunjukkan bahawa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7
‘potongan’ informasi saja pada satu saat
3) Asumsi
Pemrosesan aktif (active-processing)
Manusia secara aktif melakukan pemprosesan
kognitif untuk mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya.
Manusia tidak seperti tape recorder yang secara pasif merekam informasi
melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi
dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model
mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran
secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan
materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam
struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di
dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya. Pendeknya, manusia adalah
prosesor aktif yang menalar dan memasuk akalkan setiap informasi yang ada.
Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan
menyimpannya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.
Dalam pembelajaran kimia kita dapat
mengabil contoh : yakni dengan menggunakan projector pada saat menjelaskan
materi tentang senyawa aromatic dengan aplikaasi tertentu, kemudian pendidikan
menjelaskan secara verbal, maka terjadilah proses penerimaan yang bai oleh
pesert didik, baik visual maupun verbal .
2. Jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran kimia!
Jawab :
Allan Paivio
(Paivio, 1971, 2006) merupakan pencetus teori dual coding, yang menyatakan
bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari
dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan
suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram,
gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik
secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski,
Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut
memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses
informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Teori dual coding mengidentifikasi
tiga cara pemrosesan informasi, yaitu:
·
pengaktifan
langsung representasi verbal atau piktorial,
·
pengaktifan
representasi verbal oleh piktorial atau sebaliknya
·
pengaktifan
secara bersama-sama representasi verbal dan piktorial.
Teori dual coding ini jika dikaitkan
dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan
bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan
cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga
pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior
knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki
masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran
yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru
yang disampaikan.
Mayer (2003)
mengintegrasikan teori dual coding ini ke dalam model SOI (Selecting Organizing
Integrating) dalam pemrosesan informasi. Hal terpenting yang dinyatakan oleh
teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori,
seharusnya menjadi pokok pikiran ketika
seseorang hendak mendesain atau menyiapkan sesuatu multimedia
pembelajaran.
Teori Dual Coding juga menyiratkan
bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan
merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan
nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti
berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari
beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak
pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Baiklah saya ingin menambahkan sedikit contoh dari asumsi kapasitas-terbatas Contoh media pembelajaran kimia yang relevan untuk asumsi ini adalah dengan menggunakan papan tulis sebagai media (alat bantu dalam memberikan informasi) dan seorang pengajar yang menyampaikan materi kimia dengan menggunakan metode ceramah, karena manusia mempunyai kapasitas yang terbatas jadi peserta didik harus mencatat apa yang guru jelaskan dan apa yang tertulis di papan tulis kemudian diolah, dipadupadankan dan diintegrasikan ke otak dan disimpan sebagai informasi yang baru.
BalasHapusTerima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapussaya ingin menambahkan pada soal nomor 1
BalasHapusDual Channel
Sistem kognitif manusia terdiri dari dua saluran berbeda untuk mewakili dan memanipulasi pengetahuan, yaitu 1) visual-pictorial channel dan auditory-verbal channel (Baddeley,1986, 1999; Paivio, 1986). Gambar memasuki sistem kognitif melalui mata dan dapat diproses sebagai pictorial representations pada visual-pictorial channel. Kata-kata lisan memasuki sistem kognitif melalui telinga dan dapat diproses sebagai verbal representations pada auditory-verbal channel.
· Limited Capacity
Setiap saluran pada sistem kognitif manusia memiliki keterbatasan kapasitas untuk memegang dan memanipulasi pengetahuan (Baddeley, 1986, 1999; Sweller, 1999). Ketika banyak gambar (atau bahan-bahan visual lainya) disajikan pada saat bersamaan, saluran visual-pictorial bisa menjadi overload. Ketika banyak kata-kata lisan (dan sounds lainnya) disajikan pada saat bersamaan, saluran auditory-verbal bisa menjadi overload.
· Active Processing
Pembelajaran bermakna (meaningful learning) terjadi ketika pebelajar terlibat dalam pengolahan aktif pada saluran, termasuk memilih kata-kata dan gambar yang relevan, mengorganisasikan kata-kata dan gambar ke dalam model pictorial dan verbal yang koheren, dan mengintegrasikan kata-kata dan gambar satu sama lain dengan pengetahuan awal (prior knowledge) yang sesuai (Mayer, 1999, 2001; Wittrock, 1989). Proses pembelajaran aktif tersebut lebih memungkinkan terjadi ketika corresponding verbal and pictorial representations berada pada memori kerja pada waktu yang sama.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
BalasHapusTerima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapusassalamualaikum wr wb,saya ingin menambahkan sedikit jawaban dari soal nomor 2 teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
BalasHapusTeori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
jadi dapat di simpulkan bahwa teori dual coding ini dapat di terapkan dalam pembelajaran kimia karena teori dual coding menggunakan channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses informasi yang kita sajikan
Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapusassalamu'alaikum wr.wb saya ingin menambhkan jawaban nomor 1.
BalasHapusContoh media pembelajaran kimia yang digunakan dalam pembelajaran dapat berupa kartu game, papan deret Volta, atau dengan media computer berbentuk animasi. Media pembelajaran kelarutan, hasil kali kelarutan, dan koloid dapat menggunakan media komputer yang mendukung animasi sehingga memudahkan siswa dalam pemahaman. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan banyak terdapat konsep dan hitungan kimia sedangkan materi koloid berupa konsep-konsep kimia. Media pembelajaran yang dapat digunakan berupa animasi percobaan pada media komputer sehingga siswa memahami konsep-konsep. Selain itu, animasi komputer tersebut dapat dilengkapi dengan soal-soal untuk melatih pemahaman materi yang disajikan secara menarik sehingga mendorong siswa untuk berlatih dengan suasana yang lebih menyenangkan.
Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
HapusTeori dual-coding menyatakan bahwa informasi bisa diberi kode, disimpan, dan diperoleh kembali dari dua sistem yang berbeda secara fundamental, satu menyesuaikan dengan informasi verbal, yang lain menyesuaikan dengan image atau informasi visual. Presentasi-presentasi dual-mode bisa memperluas kapasitas memori kerja jika satu bagian dari instruksinya (misalnya, penjelasan-penjelasan tekstual) dihadirkan dalam bentuk auditory dan yang lain (misalnya, diagram) dalam bentuk visual, desain pesan seperti ini dapatmeningkatkan jumlah informasi yang bisa diproses tanpa muatan kognitif yang berlebih. Pebelajar sebagai penerima informasi mengintegrasikan kata-kata dan gambar secara lebih mudah saat kata-kata dihadirkan secara auditori daripada secara visual karena menggunakan prosesor-prosesor auditori dan visual dalam memori kerja secara efektif menghilangkan muatan kognitif yang berlebihan dari saluran visual.
BalasHapusTerima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapus