Teori
Pemrosesan Informasi ini dikembangkan oleh Gagne seorang psikolog pendidikan
berkebangsaan Amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of
learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam
training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep RobertM Gagne,
Jerome Seymour Bruner, Albert Bandura dan Lev Vygotsky merupakan tokoh-tokoh penting
yang telah mencetuskan berbagai teori pembelajaran dan memberi sumbangan yang besar
dalam dunia pendidikan. Pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting
dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.
Berdasarkan temuan
riset linguistik, psikologi, antropologi dan
ilmu komputer, dikembangkan model berpikir.
Pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan
cara individu memanipulasi simbol dan
memproses informasi. Model belajar pemrosesan informasi Anita E.
Woolfolk (Parkay & Stanford, 1992) disajikan melalui skema yang
dikutip berikut ini.
Model belajar
pemrosesan informasi ini sering pula
disebut model kognitif information processing, karena dalam
proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural
sistem informasi, yaitu:
1) Sensory
atau intake register: informasi masuk
ke sistem melalui sensory register, tetapi
hanya disimpan untuk periode waktu
terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi
masuk ke working memory yang digabungkan dengan
informasi di long-term memory.
2) Working
memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working
memory, dan di sini berlangsung berpikir
yang sadar. Kelemahan working memory sangat
terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan
sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term
memory, yang secara potensial tidak
terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh
informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya
adalah betapa sulit mengakses informasi yang
tersimpan di dalamnya.
Proses berpikir merupakan proses kompleks dan tidak dapat dilihat secara langsung
bagaimana otak bekerja dan informasi di olah. Informasi yang diterima melalui alat indera akan dipersepsikan oleh
bagian-bagian yang berfungsi
secara khusus. Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada
aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan
kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran.
Pemrosesan
informasi untuk memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke dalam memori
jangka panjang disebut pengkodean atau encoding. Sementara itu, menyimpan
informasi dalam memorijangka panjang tidak ada gunanya kecuali dapat ditemukan
cara untuk mengaktifkan dan memanggil kembali informasi tersebut. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara
mengumpulkan/menerima stimuli dari
lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan
menggunakan simbol verbal dan visual.
Pembelajaran
berbantuan media dapat diartikan sebagai aplikasi media yang digunakan dalam
proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan
sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemau-an
belajar sehingga terjadi proses belajar yang sesuaitujuan dan terkendali asumsi
yang mendasari teori kognitiftentang multimedia learning, yakni dual-channel
(saluran ganda), limited capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing (pemrosesan aktif). Asumsi
saluran ganda (dual-channel assumption) menyatakan bahwa manusia memiliki
saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi
auditori. Informasi berupa kata-kata diterima oleh mata dan telinga, sedangkan
gambar diterima oleh mata yang merupakan memori sensorik. Setelah diseleksi
oleh memori sensorik, informasi diteruskan ke memori kerja. Di dalam memori
kerja, informasi diorganisasikan untuk diintegrasikan yang selanjutnya
diteruskan ke memori jangka panjang.
Proses pembelajaran yang
efektif terletak
pada optimalisasi beban
kognitif
dalam kapasitas memori kerja siswa yang terbatas. Dalam mendesain pembelajaran perlu mempertimbangkan faktor kognitif.
Teori yang membicarakan
beban kognitif disebut teori beban
kognitif. Sweller mengungkapkan, “Cognitive Load Theory
(CLT) began
as instructional theory based
on our knowledge of human cognitive
architecture” (Plass, Jan L.,Roxana Moreno, Robald
Bruken, 2010: 29).
Prinsip utama teori
beban kognnitif adalah
kualitas dari pembelajaran
akan meningkat jika perhatian dikonsentrasikan
pada peran dan
keterbatasan memori kerja. R.C. Clark et al mengungkapkan bahwa
terdapat tiga beban
kognitif yang mempengaruhi kerja memori tersebut yaitu
: beban kognitif intrinsic (intrinsic
cognitive load),
2)
beban kognitif germany (germany cognitive
load) dan 3) beban
kognitif extraneous
(extraneous cognitive
load) . Beban kognitif intrinsic bergantung pada tingkat kesulitan
dari
materinya seberapa banyak
unsur yang ada dan bagaimana
mereka berinteraksi satu
sama
lain.
Beban
kognitif
germany (germany
cognitive
load)
adalah beban yang
relevan atau menguntungkan yang
dikenakan oleh
metode pengajaran yang
mengarah
pada
hasil belajar
yang
lebih baik. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load)
bergantung pada cara
pesan-pesan ins- truksional tersebut dirancang, yakni pada materi
tersebut ditata
dan disajikan
(Kuan, 2010:6-7).
saya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
BalasHapusKejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapusselamat malam dhiyah , materi blognya bagus , izinkan saya menambahkan sedikit materi blog dhiyah bahwa Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
BalasHapusPemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
terima kasih
Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapusmenurut anda bgaimna cara mengatasi miss komunikasi yang terjadi pada siswa?
BalasHapusmenurut saya bisa dengan menjelaskan apa yang menjadi miss pada siswa tersebut,contohnya saja jika ada miss pada materi yang kita sampaikan. terima kasih
Hapusdengan melakuakan pemaparan yang lebih jelas disertai dengan contoh atau pun bukti nyata yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari
HapusTerima Kasih atas penambahan jawabannya 😊
Hapusassalamu'alaikum wr.wb saya ingin menambahkan materi sedikit tentang postingan blog anda ditas.
BalasHapusDalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .
Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.
Hapussaya ingin menambahkan materi yang sudah anda posting ini :
BalasHapusModel belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
a) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
b) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
c) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
terima kasih
Terima Kasih atas penambahan materinya saudari Ismi
HapusBagaimana cara pemrosesan informasi pada memory jangka pendek itu agar bisa tetap terpanggil kembali saat informasi itu dibutuhkan?
BalasHapuskenapa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?
BalasHapuskenapa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?
BalasHapus