Selasa, 21 Februari 2017

TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA

Teori Pemrosesan Informasi ini dikembangkan oleh Gagne seorang psikolog pendidikan berkebangsaan Amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep RobertM Gagne, Jerome Seymour Bruner, Albert Bandura dan Lev Vygotsky merupakan tokoh-tokoh penting yang telah mencetuskan berbagai teori pembelajaran dan memberi sumbangan yang besar dalam dunia pendidikan. Pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.
Berdasarkan  temuan  riset  linguistik,  psikologi,  antropologi  dan  ilmu  komputer,  dikembangkan  model  berpikir.  Pusat  kajiannya  pada  proses  belajar  dan menggambarkan  cara  individu  memanipulasi  simbol  dan  memproses  informasi. Model belajar pemrosesan  informasi Anita E. Woolfolk  (Parkay & Stanford, 1992) disajikan melalui skema yang dikutip berikut ini.
Model  belajar  pemrosesan  informasi  ini  sering  pula  disebut  model  kognitif information processing, karena dalam proses belajar  ini  tersedia  tiga  taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1)      Sensory  atau  intake  register:  informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register,  tetapi  hanya  disimpan  untuk  periode  waktu  terbatas.  Agar  tetap dalam  sistem,  informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2)      Working memory: pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory,  dan  di  sini  berlangsung  berpikir  yang  sadar.  Kelemahan  working memory  sangat  terbatas  kapasitas  isinya  dan memperhatikan  sejumlah  kecil informasi secara serempak.
3)      Long-term  memory,  yang  secara  potensial  tidak  terbatas  kapasitas  isinya sehingga mampu menampung seluruh  informasi yang sudah dimiliki peserta didik.  Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya.

  Proses berpikir merupakan proses kompleks dan tidak dapat dilihat secara langsung bagaimana otak bekerja dan informasi di olah. Informasi yang diterima melalui alat indera akan dipersepsikan oleh bagian-bagian yang berfungsi secara khusus. Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran.
Pemrosesan informasi untuk memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke dalam memori jangka panjang disebut pengkodean atau encoding. Sementara itu, menyimpan informasi dalam memorijangka panjang tidak ada gunanya kecuali dapat ditemukan cara untuk mengaktifkan dan memanggil kembali informasi tersebut. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual.

Pembelajaran berbantuan media dapat diartikan sebagai aplikasi media yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemau-an belajar sehingga terjadi proses belajar yang sesuaitujuan dan terkendali asumsi yang mendasari teori kognitiftentang multimedia learning, yakni dual-channel (saluran ganda), limited capacity (kapasitas terbatas), dan  active-processing (pemrosesan aktif). Asumsi saluran ganda (dual-channel assumption) menyatakan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Informasi berupa kata-kata diterima oleh mata dan telinga, sedangkan gambar diterima oleh mata yang merupakan memori sensorik. Setelah diseleksi oleh memori sensorik, informasi diteruskan ke memori kerja. Di dalam memori kerja, informasi diorganisasikan untuk diintegrasikan yang selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang.
Proses pembelajaran yang efektif terletak pada optimalisasi beban kognitif dalam kapasitas memori kerja siswa yang terbatas. Dalam mendesain pembelajaran perlu mempertimbangkan faktor kognitif. Teori yang membicarakan beban kognitif disebut teori beban kognitif. Sweller mengungkapkan,Cognitive Load Theory (CLT) began as instructional theory based on our knowledge of human cognitive architecture (Plass, Jan L.,Roxana Moreno, Robald Bruken, 2010: 29).
Prinsip utama teori beban kognnitif adalah kualitas dari pembelajaran akan meningkat jika perhatian dikonsentrasikan pada peran dan keterbatasan memori kerja. R.C. Clark et al mengungkapkan bahwa terdapat tiga beban kognitif yang mempengaruhi kerja memori tersebut yaitu : beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load), 2) beban kognitif germany (germany cognitive load) dan 3) beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) . Beban kognitif intrinsic bergantung pada tingkat kesulitan dari materinya seberapa banyak unsur yang ada  dan  bagaimana  mereka  berinteraksi satu  sama  lain.  Beban  kognitif  germany (germany  cognitive  load)  adalah  beban yang relevan atau menguntungkan yang dikenakan oleh metode pengajaran yang mengarah  pada  hasil  belajar  yang  lebih baik. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) bergantung pada cara pesan-pesan ins- truksional tersebut dirancang, yakni pada materi  tersebut  ditata  dan  disajikan (Kuan, 2010:6-7).

15 komentar:

  1. saya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
    Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
    1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
    2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
    3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
    4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
    5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
    6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
    7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
    8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  2. selamat malam dhiyah , materi blognya bagus , izinkan saya menambahkan sedikit materi blog dhiyah bahwa Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
    Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  3. menurut anda bgaimna cara mengatasi miss komunikasi yang terjadi pada siswa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya bisa dengan menjelaskan apa yang menjadi miss pada siswa tersebut,contohnya saja jika ada miss pada materi yang kita sampaikan. terima kasih

      Hapus
    2. dengan melakuakan pemaparan yang lebih jelas disertai dengan contoh atau pun bukti nyata yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari

      Hapus
    3. Terima Kasih atas penambahan jawabannya 😊

      Hapus
  4. assalamu'alaikum wr.wb saya ingin menambahkan materi sedikit tentang postingan blog anda ditas.
    Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
    Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih atas penambahan materinya. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  5. saya ingin menambahkan materi yang sudah anda posting ini :
    Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
    a) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
    b) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
    c) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih atas penambahan materinya saudari Ismi

      Hapus
  6. Bagaimana cara pemrosesan informasi pada memory jangka pendek itu agar bisa tetap terpanggil kembali saat informasi itu dibutuhkan?

    BalasHapus
  7. kenapa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?

    BalasHapus
  8. kenapa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?

    BalasHapus